LIPUTAN TENTANG INSSOO

Bangun Bisnis Tas Anyaman, Modal INSSOO Cuma Rp500 Ribu

(Liputan by ; Money.id)

Pernahkah terlintas di pikiran Anda untuk mengubah dedaunan seperti daun pandan dan daun agel, menjadi suatu barang yang cantik? Mungkin tidak semua orang merasa dedaunan dari alam tersebut memiliki nilai jual yang tinggi bila dikreasikan sedemikian rupa.

Hal itulah yang dimanfaatkan oleh seorang pengusaha asal Yogyakarta, Natalia Indira untuk membuat tas dari bahan-bahan alam tersebut. Kecintaannya terhadap kerajinan tangan berawal dari hobinya sejak tahun 2010 silam.

Sebelum menikah dan pindah ke Yogyakarta, Natalia pernah bekerja di Jakarta di bidang finansial. Karena hiruk pikuk Jakarta yang semakin mengganggu, akhirnya ia putuskan untuk pindah ke Yogyakarta.

Saat pindah ke kota yang berada di selatan Jawa Tengah itu, dia sempat memikirkan usaha apa yang harus ia buat untuk menambah-nambah penghasilannya. Natalia bercerita pada awalnya hanya iseng membeli daun pandan dengan jumlah besar dan mencoba berkreasi dengan bahan alam tersebut.

Tidak disangka, berkat idenya membuat sebuah tas clutch berukuran sedang menjadikannya sukses merintis bisnis tas anyaman modern yang terbuat dari bahan-bahan seperti daun pandan, daun agel, dan eceng gondok.

"Waktu itu aku kepikiran, di Yogya itu banyak tumbuhan-tumbuhan yang belum dieksplorasi kegunaannya. Lalu dengan hobi saya yang suka dengan kerajinan, kenapa tidak dijadikan bisnis saja. Saya akhirnya mulai terjun di bisnis ini pada tahun 2014 lalu," kata lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya Yogyakarta ini saat dihubungi Money.id, Rabu 17 Februari 2016.

Beruntung Natalia didukung penuh oleh kedua orangtuanya untuk terus memajukan bisnis ini. Terlebih seluruh keluarganya, orang-orang yang selama ini membantunya membangun Indonesia Woven Craft (INSSOO).

"Kebetulan saya dan tim inti adalah keluarga yang terdiri dari lima orang. Di antaranya, papa, mama, adik, suami dan saya sendiri. Ya, orang-orang inilah yang membantu saya untuk membuat seluruh kerajinan tas anyaman," tuturnya.

Tidak ada yang menyangka bila Natalia mengatakan modal yang ia keluarkan tidak lebih dari sejuta. Dia bercerita beberapa temannya sempat tidak percaya jika modal awalnya hanya Rp500 ribu.

"Banyak kok yang tidak percaya modal saya segitu. Waktu pandan masih murah sekitar Rp6-7 ribu per kilo-nya, saya coba beli. Lalu bahan itu saya buat sendiri menjadi 6-7 clutch kemudian dijual. Nah dari semua itu, modalnya aku putar lagi. Ya, sampai sekarang begini deh keterusan, haha," kata Natalia.

Dari modal tersebut, Natalia mengungkapkan bahwa dalam sebulan omzet yang dia terima mulai dari Rp100 juta hingga Rp150 juta. Bahkan dia sendiri pun masih tidak mempercayainya.

Ketika ditanya Money.id mengenai harga produknya yang murah, mulai dari Rp40 ribu hingga Rp150 ribu Natalia malah tertawa kecil. Dia menjelaskan bahwa tidak memikirkan keuntungan sejak awal membangun bisnisnya, yang terpenting adalah kuantitas yang semakin banyak.

"Keuntungan tidak terlalu penting untuk saya. Tapi kuantitaslah yang penting. Karena buat saya semakin banyak orang memesan produk ini, ada rasa kebanggaan sendiri karena barang yang saya buat digunakan oleh orang lain. Itulah yang membuat saya masih terus bersemangat. Intinya harus gembira," ungkapnya. 

Rumitnya Pembuatan Tas

Sepintas mungkin tas buatan Natalia ini sama seperti tas-tas kerajinan anyaman lainnya. Namun yang membuatnya berbeda adalah kualitas dari bahan yang digunakan adalah yang terbaik dari alam.

Meski toko kerajinan tersebut baru berdiri selama dua tahun lamanya, namun wanita berambut panjang itu mengutamakan kualitas di setiap produk yang dibuat.

"Saya selalu mengutamakan kualitas. Orang kalau menyentuh tas buatan saya pasti ada yang berbeda, misalnya tekstur lebih halus. Kalau pun dalam proses pengerjaan ada yang tidak bagus atau jelek, saya tidak akan jual ke pembeli," jelasnya.

Ketika ditanya Money.id mengenai proses pembuatannya, dari seberang telepon Natalia menjelaskan secara rinci. Dalam pembuatan tas anyaman miliknya dibutukan proses yang tidak sebentar.

Pertama-tama Natalia harus memilih bahan-bahan yang terbaik untuk dijadikan anyaman. Setelah proses anyaman selesai, ia mewarnainya dengan cara mencelup anyaman tersebut untuk pewarnaan dasar. Lalu setelah selesai, dijemur. Tetapi itu belum selesai sampai tahap pengerjaan desain.

"Saya harus melihat kualitasnya dulu, setelah pewarnaan kami lihat dulu ada yang kurang atau tidak. Pewarnaannya pun harus merata, jadi tidak satu agak gelap atau yang lain tidak. Pengerjaan anyaman juga harus rapi, lalu pengeleman pun harus rapi," ucapnya.

Setelah benar-benar rapi, baru kemudian tas-tas tersebut didesain sesuai dengan keinginan. Wanita berkacamata itu menjelaskan untuk pengerjaan desain, biasanya dibagi-bagi pada masing-masing orang.

Misalnya untuk desain lukis menggunakan cat akrilik, sang ayah yang bertugas. Sedangkan untuk teknik decopage dan sulam adalah tugas Natalia dan ibunya. Natalia juga menjelaskan bahwa ide desainnya datang dari mood saja, bukan hal-hal yang direncanakan.

"Tergantung mood juga sih ya, lukis itu biasanya limited edition hanya bisa dikerjakan satu sampai dua produk saja. Sedangkan decopage kami yang kreasikan sendiri. Sementara itu teknik sulam adalah salah satu yang diminati para pelanggan loh. Seperti gambar bunga, atau kupu-kupu," jelas Natalia.

Dia menambahkan bahwa dalam mendesain mereka tidak menggunakan pewarna tekstil. Semua dari bahan-bahan yang alami. Tetapi bila ada pesanan yang menginginkan warna gold dan silver, mereka harus melakukan pengecatan dua kali.

Natalia bisa mengeluarkan 300 buah clutch dalam seminggu dengan pengerjaan 20 orang pengrajin. Tapi hal tersebut belum angka yang pasti, karena semua tergantung oleh kondisi cuaca, dan kondisi para pengrajin.

"Semuanya tergantung cuaca sih. Apalagi kalau cuacanya sedang musim penghujan begini, produksi bisa diundur sampai dua minggu karena pewarnaannya belum kering. Solusinya harus diangin-anginkan atau dijemur. Itulah yang membuat kami tidak memaksakan harus berapa produk yang keluar," jelas Natalia. (dwq)

(Sumber : http://www.money.id/inspiratory/inssoo-tas-kerajinan-cantik-asal-yogyakarta-berbahan-dasar-dari-alam-1602161/ide-hingga-proses-yang-panjang-dan-rumit.html)